Departemen Statistika

Biasa jadi ‘budak proker’ PDD, Raja kini pimpin internal Himasta Unpad. Bukti anak desain bisa jadi motor kepemimpinan yang emosional!

Di dunia organisasi kampus, divisi Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi (PDD) sering kali memiliki citra sebagai ‘budak proker’. Julukan ini muncul karena mereka adalah tim yang pulang paling malam demi acara, tetapi jarang mendapat sorotan di atas panggung. Siapa sangka, dari balik lensa kamera dan desain itulah, pondasi kepemimpinan di Himpunan Mahasiswa Statistika Unpad (Himasta Unpad) hari ini justru lahir.

Modal ‘Nekat’ Tanpa Pengalaman

Langkah awal Raja dalam dunia kampus sebenarnya penuh dengan kenekatan. Saat pertama kali terjun ke organisasi kuliah, Raja langsung mengambil tanggung jawab besar di divisi yang bahkan belum ia kuasai. Ia langsung menjabat sebagai Kepala Divisi (Kadiv) PDD.

“Jujur pertama kali ku masuk PDD itu jadi kadiv, padahal gapunya pengalaman PDD atau bahkan memimpin,” kenang Raja (26/05/2026).

Namun, alih-alih tumbang karena tekanan, ruang kerja PDD justru menjadi tempat belajar terbaik bagi Raja. Di sanalah ia secara tidak langsung belajar dengan cepat mengenai seni mengelola manusia dan staf organisasi.

Cinta yang Besar pada Himasta

Pengalaman mengelola manusia di PDD menumbuhkan rasa percaya diri Raja untuk mengambil peran yang lebih besar. Bagi Raja, Himasta Unpad bukan sekadar organisasi tempat mencari sertifikat, melainkan wadah besar yang memiliki prestise tinggi di kampus.

Sejak awal aku merasa bangga terhadap Himasta, karena saya merasa Himasta merupakan salah satu himpunan bergengsi dan memiliki prestasi besar. Himpunan mana sih yg setiap taun bisa ngadain konser?” ujarnya berseloroh.

Rasa bangga itulah yang memicu motivasi terbesarnya untuk maju dalam pemilu himpunan. Ia ingin berkontribusi langsung untuk melanjutkan estafet prestasi Himasta Unpad melalui inovasi dan budaya baru yang ia bawa.

Hima Statistika di acara Putra Putri Himasta 2026

Menepis Ego, Memilih Menjadi ‘Jantung’ Internal

Raja secara sadar memilih kursi sebagai Wakahim dan menepis egonya karena paham betul di mana letak kekuatan terbaiknya berada.

“Dari bahasan kami, aku merasa bisa memahami orang dari sisi emosional dan dapat menjaga internal” ungkap Raja secara terbuka.

Ia mengakui sang partner punya upper hand dalam hal public speaking dan berpikir kritis untuk menjadi “wajah” Himasta Unpad di luar. Bagi Raja, kepemimpinan bukanlah soal siapa yang paling tenar, melainkan tentang pembagian peran yang tepat.

“Kedepannya aku harap Himasta dapat terus menjadi lembaga yang bermanfaat, berasaskan kekeluargaan, serta menjunjung tinggi etika yang baik,” tutupnya.

Hima Statistika pada studi banding dengan Hima Ilmu Pemerintahan Unpad

Perjalanan Raja menjadi bukti bahwa latar belakang PDD atau bekerja di balik layar bukanlah hambatan untuk menjadi pemimpin besar. Pada akhirnya, pemimpin sejati ialah yang paling tulus merawat kenyamanan orang-orang di belakang layar.

Ditulis oleh: Meycila Alviannur ([email protected])