Sebelas Mahasiswa Mewakili Universitas Padjadjaran Sebagai Delegasi Harvard National Model United Nations 2017

Sebelas Mahasiswa Mewakili Universitas Padjadjaran Sebagai Delegasi Harvard National Model United Nations 2017

Universitas Padjadjaran kembali mengirimkan sebelas orang perwakilan mahasiswanya dalam salah satu simulasi sidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Harvard National Model United Nations (HNMUN).

Harvard National Model United Nations merupakan simulasi konferensi PBB yang tertua, terbesar, dan paling prestisius di dunia yang diikuti oleh 3000 mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Simulasi konferensi PBB yang diselenggarakan oleh Harvard University, Boston, setiap tahunnya telah diselenggarakan sejak tahun 1955. Dalam konfrensi ini para delegasi akan membahas permasalahan global yang dihadapi beberapa negara dalam berbagai bidang. Delegasi dituntut untuk memiliki kompetensi negosiasi, berpikir kritis, dan public speaking.

Universitas Padjadjaran telah berpartisipasi selama sepuluh tahun terakhir dengan mengirimkan delegasi yang telah terpilih untuk mewakili Universitas Padjadjaran di Harvard University. Para mahasiswa yang akhirnya terpilih telah melewati beberapa proses seleksi seperti wawancara, pembuatan paper, Forum Group Discussion, dan mini caucus.

Sembilan orang mahasiswa yang akhirnya terpilih menjadi delegasi dalam konfrensi yang akan diadakan pada tanggal 16-19 Februari 2017 di Boston, Amerika Serikat adalah :

Yoga Mahardika (Fisip), Agrian Ratu Randa (Fikom), Adhia Rana Kayungyun (Fikom), Albert Christiaan Londa (Fikom), Muhammad Dwika Pratamadia (FH), Ben Satrio Hutomo (FEB), Gretta Gizela (FEB), Hygea Marwany (FEB), Jeremy Juanito Lumbantobing (FEB).

Seluruh delegasi akan didampingi oleh dua orang Faculty Advisor yaitu Fathan Zuhair Farizi (FEB), Jessica Priscilla Suri (FH).

Para delegasi dari Universitas Padjadjaran akan mewakili negara Kyrgyzstan di komite Disarmament and International Security (DISEC), Social, Humanitarian, and Cultural (SOCHUM), Special Political and Decolonization (SPECPOL), Legal, Special Summit on Sustainable Development.

Dipost Oleh Mas Agus Setyawan

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait