Panglima TNI, Jendral Gatot Nurmantyo “Tidak Bisa Semau-maunya di Indonesia, Harus Sesuai Aturan”

Panglima TNI, Jendral Gatot Nurmantyo “Tidak Bisa Semau-maunya di Indonesia, Harus Sesuai Aturan”

[Unpad.ac.id, 23/11/2016]  Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, mengajak seluruh masyarakat, termasuk mahasiswa untuk bersatu, berjuang, dan bergotong royong agar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak terpecah belah. Apalagi, saat ini banyak ancaman dari luar untuk melemahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Dan saya titipkan, mahasiswa adalah pemersatu bangsa,” ujar Gatot saat menjadi Keynote Speaker dalam Seminar Nasional “Peningkatan Ketahanan Bangsa untuk Menjaga Keutuhan NKRI” di Grha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Rabu (23/11). Acara ini digelar Fakultas Psikologi Unpad bekerja sama dengan Dinas Psikologi Angkatan Darat untuk memperingati Dies Natalis Fakultas Psikologi Unpad.

Labih lanjut Gatot menyampaikan, peran mahasiswa dalam mempersatukan bangsa sudah terlihat dari zaman perjuangan kemerdekaan dulu, diantaranya terlihat saat pencetusan Sumpah Pemuda. Begitu juga saat memperjuangkan reformasi, mahasiswa sangat berperan. Untuk itu, mahasiswa perlu mengetahui berbagai tantangan dan ancaman bangsa saat ini.

Kepada para peserta seminar, Gatot pun menyampaikan beberapa tantangan dan ancaman yang terjadi saat ini. Diantaranya adalah ancaman terorisme, ancaman narkoba, persaingan ekonomi,  dan tantangan bonus demografi.

Gatot mengungkapkan, berbagai potensi dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dapat membuat negara lain iri dan ingin menguasainya. Saat ini, ada ancaman dari luar untuk membagi-bagi wilayah NKRI. Untuk itu perlu upaya masyarakat untuk bersama-sama mempertahankannya. Semangat berjuang dan gotong royong dinilai sudah menjadi ciri khas bangsa ini sejak memperjuangkan kemerdekaan dan perlu tetap dipertahankan.

Ia pun mengingatkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan alat pemersatu kekuatan Indonesia. Hal inilah yang sedang berusaha dipecah oleh pihak luar, termasuk dengan mengadu domba masyarakat Indonesia melalui pembentukan opini yang menyesatkan.

Menurut Gatot, Indonesia memiliki berbagai potensi, kekuatan, dan keunggulan yang luar biasa. Kelemahannya, adalah banyak masyarakat yang memiliki ego tinggi dengan lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongan. Kelemahan inilah yang memudahkan pihak luar untuk memecah belah bangsa.

“Indonesia milikku, Indonesia milikmu, Indonesia milik kita bersama. Maka kita boleh mengatakan milikku, tapi ingat Indonesia juga milikmu, tapi ingat Indonesia juga milik kita bersama. Tidak bisa semau-maunya di Indonesia itu. Harus sesuai dengan aturan, konsesus kita bersama. Itulah sebenarnya Bhinneka Tunggal Ika,” papar Gatot.

Ia pun mengutip pernyataan presiden pertama RI, Soekarno yang menyatakan bahwa perjuangan akan lebih sulit jika melawan bangsa sendiri. “Dan kita sekarang sedang mengalami itu. Maka cegah hasutan, cegah provokasi, cegah adu domba,” tegas Gatot.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad mengungkapkan bahwa sudah menjadi keteguhan dan komitmen Unpad untuk bersama-sama masyarakat membangun bangsa, agar bangsa ini dapat terus maju dan bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya. Hal ini pun terlihat dari lirik Hymne Unpad, dimana Unpad sebagai insan abdi masyarakat pembina nusa bangsa.

“Bagi warga Universitas Padjadjaran, upaya kita untuk menjaga NKRI sudah menjadi bagian dari kehidupan. Karena setiap saat kami semua menyanyikan lagu Hymne Unpad, di hati kita dan jiwa warga Universitas Padjadjaran, terkandung  makna kuat kita adalah insan abdi masyarakat pembina nusa bangsa,” ujar Rektor.*

Laporan oleh: Artanti Hendriyana / eh

Dipost Oleh Mas Agus Setyawan

No matter how exciting or significant a person's life is, a poorly written biography will make it seem like a snore. On the other hand, a good biographer can draw insight from an ordinary life-because they recognize that even the most exciting life is an ordinary life! After all, a biography isn't supposed to be a collection of facts assembled in chronological order; it's the biographer's interpretation of how that life was different and important.

Post Terkait